AMBALAN GUGUS DEPAN SMAN 1 CIAWIGEBANG
SELAYANG PANDANG AMBALAN PANGERAN ARIA SANTANG DAN DYAH PITALOKA
* SEJARAH AMBALAN PANGERAN ARYA SANTANG *
Nama Ambalan Pangeran Arya Santang dan lambangnya pertama kali diciptakan oleh kak Agus Rusdinawan Bantara Angkatan I. Adapun Sejarah Pangeran Arya santang adalah sebagai berikut
Pangeran Arya Santang adalah seorang Raja di daerah Palembang Girang, yang konon sekarang disebut Susukan dan berada di wilayah Kecamatan Ciawigebang. Pangeran Arya Santang mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Chandra Wulan. Karena kecantikannya itu banyak pemuda yang terpikat.
Mengetahui hal tersebut Pangeran Arya Santang membuat sebuah sayembara bahwa “ Barang Siapa yang dapat membuat sebuah sungai di Palembang Girang yang bermuara ke Laut Jawa dengan menggunakan alat vitalnya maka ia akan diangkat sebagai menantu Kerajaan Palembang Girang “
Secara sepintas, maksud diadakannya sayembara itu agar tak ada seorang pun yang sanggup melakukannya, sehingga putrinya tak dapat dinikahi oleh sembarang orang.
Kenyataannya memang demikian, banyak pemuda yang mencoba mengikuti sayembara tersebut, tapi tak seorang pun berhasil melakukannya. Hingga suatu saat datanglah seorang pemuda dari negeri lain yang sanggup melakukan hal tersebut. Pemuda yang bernama Gajah Manggala itu akhirnya dapat menyelesaikan tugas yang disayembarakan tepat pada waktunya. Pangeran Arya Santang kaget bukan kepalang, begitu juga putri Chandra Wulan, ia takut karena ia tak pernah mencintai Gajah Menggala. Karena ketakutan dan kesedihannya Putri Chandra Wulan memutuskan untuk melarikan diri dari Kerajaan Palembang Girang.
Mendengar putrinya melarikan diri, Pangeran Arya Santang sangat terpukul dan hal ini diketahui oleh Gajah Manggala. Maka dengan segala kemampuan yang ada ia mengerahkan segala kesaktiannya.
Saat melarikan diri, Chandra Wulan yang mempunyai kebiasaan menyirih, kehilangan sebuah cupu tempat menyimpan sirih. Konon tempat jatuhnya cupu tersebut kini di kenal dengan daerah Gunung Cupu yang tepat berada di samping kanan bangunan SMAN 1 Ciawigebang. Sebuah bukit kecil yang menyerupai cupu terbalik.
Dalam pelariannya, Putri Chandra Wulan bersembunyi di sebuah goa, namun dengan segala kesaktian yang dimiliki oleh Gajah Manggala, tempat persembunyian itu akhirnya diketahui juga.
Namun karena Gajah Manggala memiliki tubuh yang besar maka ia tidak dapat memasuki goa tersebut. Ia lalu mengambil bambu untuk membuktikan Chandra Wulan yang berada di dalam goa dengan cara memasukan bambu itu ke dalam gua.
Chandra Wulan yang sedang menyirih sangat terkejut ketika sebilah bambu masuk kedalam goa tersebut, secara spontan ia meludahi bambu tersebut, hingga bambu itu berwarna merah.
Gajah Manggala terkejut ketika ia menarik bambunya terlihat bambu itu berwarna merah seperti berlumuran darah. Dengan sedih ia meninggalkan goa itu karena ia mengganggap Chandra Wulan telah meninggal akibat kelakuannya. Ia pun kembali ke negerinya tanpa pamit kjepada Pangeran Arya Santang.
Melihat Gajah Manggala telah pergi, Putri Chandra Wulan pun kembali ke Kerajaan menemui ayahnya.
* SEJARAH AMBALAN DYAH PITALOKA *
Nama Ambalan Dyah Pitaloka dan lambangnya pertama kali diciptakan oleh kak Rina Komala Bantara Angkatan I. Adapun Sejarah Dyah Pitaloka adalah sebagai berikut :
Kerajaan Pajajaran pada permulaan abad 14 adalah sebuah kerajaan kecil yang telah hilang masa kejayaannya. Berbeda dengan Kerajaan Majapahit yang pada waktu itu sedang mengalami puncak kejayaan.
Raja Kerajaan Pajajaran psaat itu adalah Sri Baduga Maha Raja mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Dyah Pitaloka. Raja Hayam Wuruk ingin sekali meminangnya, ia memerintahkan pada Patih Kerajaan Majapahit yaitu Gajah Mada untuk menyampaikan pinangan.
Maha Patih Gajah Mada yang bukan saja sakti tapi ia juga pintar dalam berpolitik mengatur suatu siasat, agar Sumpah Palapa yang ia kumandangkan juga dapat terwujud. Pajajaran harus ditaklukan dengan cara diplomasi dan putri Dyah Pitaloka sebagai sasarannya.
Berkat kelihaian Gajah Mada, Sri Baduga Maha Raja menyetujui putrinya dinikahkan dengan Hayam Wuruk. Disertai dengan sejumlah pasukan pengawal pribadi dan sejumlah besar pangeran paling terkemuka di jajaran kerajaan serta sejumlah besar perwira dan beberapa prajurit pilihan bertolak dari ibu kota Kerajaan Pajajaran, Pakuan untuk mengiringi putri Dyah Pitaloka melalui jalan darat menuju Kerajaan Majapahit.
Tetapi setelah rombongan tersebut tiba di Lapang Bubat yang letaknya berada di sebelah utara Ibu kota Majapahit, terjadi kesalahpahaman. Sri Baduga Maha Raja heran tak ada satu pun sambutan yang meriah dari Para petinggi kerajaan Majapahit. Ia berpendapat bahwa sesuai adat istiadat kerajaan Pajajaran, seharusnya Hayam Wuruk sendiri yang harus datang ke Lapang Bubat untuk menjemput calon istrinya dan pesta pernikahan harus dilangsungkan secara besar-besaran di Ibu Kota Majapahit.
Patih Gajah Mada mempunyai penafsiran sendiri atas perjanjian yang juga telah disepakati dari semula mengenai rencana pernikahan itu. Ia berpendapat bahwa Dyah Pitaloka tidak akan dijadikan sebagai permaisuri tetapi hanya dijadikan selir Raja Hayam Wuruk.
Sri Baduga Maha Raja marah mendengar keterangan itu, ia menganggap bahwa tindakan patih Gajah Mada adalah sebuah penghinaan besar. Maka dengan murka ia memerintahkan prajurit-pajutit yang di bawanya saat itu menyerang pasukan Gajah Mada dan berusaha untuk masuk ke Ibu Kota Kerajaan. Peperangan ini di kenal dengan dengan Perang Bubat.
Kegigihan Prajurit Kerajaan Pajajaran membuat pertempuran berlangsung sangat lama, namun karena kalah dari jumlah pasukan akhirnya prajurit kerajaan Pajajaran berhasil di kalahkan, Sri Baduga Maha Raja Tewas di medan pertempuran, sementara Dyah Pitaloka yang sempat ditangkap dan di bawa ke Ibu Kota Majapahit, akhirnya memutuskan untuk bunuh diri mengiktui jejak ayahnya yang rela mati demi Bumi Pajajaran.
Sumber : Buku Roverscout Karya Ahmad Rois Affandi dan Team Rover Scout (Alumnus Pramuka Bantara SMAN I Ciawigebang)


